🙂

Veni est la vie

Kamu datang tergopoh-gopoh, ribut sekali, bilang mau pergi. Mau kemana, aku bertanya. Mau pergi pokoknya, kata kamu bersikeras. Iya kemana? Aku masih menimpali dengan sabar. Bukan sekali ini kamu teriak-teriak ingin pergi, sudah berkali-kali. Tapi toh kamu masih disini. Belum juga berani pergi. Kali ini kamu terlihat sangat yakin, keinginan untuk pergi kamu ucapkan dengan penuh penekanan, tidak seperti sebelumnya yang selalu diselingi dengan minuman atau lawakan atau tangisan.

Kali ini kelihatannya kamu cukup yakin. Sudah tidak ada gunanya aku disini, kamu berkata getir, duduk disebelahku dan menyalakan sebatang rokok. Wah, ini sudah serius, kamu tidak pernah merokok kecuali sedang dalam kemelut yang luar biasa. Aku menunggu kamu melanjutkan kalimatmu, menanti alasan kenapa kamu merasa tidak berguna lagi. Kamu menghisap rokokmu dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu berbisik lirih, aku capek. Kamu lalu menjentikan abu rokok dengan gayamu yang khas. Aku selalu suka sebetulnya kalau kamu sedang merokok, aku suka melihat cara…

View original post 721 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s