Ketika Awal Itu Tak Ingin Namun Telah Berakhir.

holds handSource: Pinterest

Ketika tetes keringat kau seka sendiri, kau ingat, kau berpeluh untuk apa. Hingga kau letih hingga tertatih, sendiri, kau ingat, kau lelah untuk apa. Ketika awalnya kau tak ingin mengambil banyak resiko, kau teguh menelan ludah bahwa tak ada hasil apabila tak berusaha. Kau tetap bersikukuh. Sembari tersenyum kecil, kau tak ingat lagi dan tak ingin menoleh apapun yang telah terlanjur kau toreh.

Kau yakinkan diri bahwa kau adalah besi yang bisa saja ternoda oleh karat di satu sisi. Bahwa tak ada yang kau yakini lagi selain adanya sesosok bidadari yang kau anggap dia mencintai. Entahlah. Ketika anggapan itu bubrah dan mungkin saja salah, kau tetap angkuh. Tetap berdiri utuh. Satu hal yang ingin kau siratkan bahwa tak ada hal abadi yang ada di dunia ini. Kau tak peduli hal yang telah kau awali, kau tak ingin akhiri.

Aku tahu. Aku mengerti. Ketika semua kata dan karyamu kau anggap aku tak menghargai. Ketika seluruh pembuktianmu kau anggap aku seperti menutup diri. Aku tahu bagaimana kau menjaga pintu yang begitu besar hingga tak sanggup kau gapai. Engkau terlalu banyak berangan hingga aku tak sanggup bagaimana aku harus memulai. Kau terlalu banyak bertingkah agar aku terbuai.

Sampai di suatu awal yang tak ingin kau akhiri. Aku merasa aku tak pernah berada di tengah – tengah. Kemudian kau mengambil ancang – ancang. Aku bilang, “Berlarilah, hingga di saat dimana kau terengah. Berlarilah padaku hingga kau lihat terang.

Apakah kau melihat terang yang kau cari? Ya, kau lihat matahari di waktu pagi. Kau melihat bulan di gelapnya malam. Kau tetap melihat aku. Tapi tak seperti biasanya. Ini lebih kaku. Tak seperti yang dulu, sekarang lebih banyak kau bertanya, ” Ketika ku teteskan keringat ku seka sendiri, lantas, aku berpeluh untuk apa. Hingga aku letih hingga tertatih, sendiri, lantas, aku lelah untuk apa.”

Ketika hal yang telah kau yakini kau anggap pergi dengan begitu saja, kau anggap percuma, kau tak pernah menghargai. Ketika waktu tak pernah ingin pinta balas, apa ini harga yang pantas. Kau harus tahu, bahwa aku di sini berterimakasih atas waktu itu. Ketika peluhmu, keluhkesahmu yang kau anggap tak ada apa-apanya itu kau persembahkan untuk bidadari yang kau anggap mencintai. Mungkin, langkahmu bukan untuknya. Tuhanlah yang lebih tahu, siapa untuk siapa. Tetaplah dengan apa yang telah kau percaya, bahwa ketika kau berusaha, janganlah berangan bahwa dia adalah yang kau cinta. Tapi kepada-Nya-lah semata-mata kau berusaha.

Mungkin, bidadari itu ada, namun di saat yang kita tak tahu dimana. Hingga kau tak habis pikir ketika awal itu tak ingin namun telah berakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s