Euforia Kedewasaan Kita

Mereka sudah sukses dan punya kehidupannya masing-masing. Mereka sudah tumbuh sedewasa itu ternyata.

“Tahukah kamu, Nak. Aku sangat bangga melihatmu sekarang. Sudah sukses dan berhasil. Punya keluarga yang harmonis, dan sangat sayang kepadamu. Tidak ada hal lain lagi yang sebenarnya aku inginkan buatmu, kecuali melihatmu seperti sekarang ini…”

Kita, sebagai anak sudah sangat sering mendengar, membaca, atau mungkin melihat hal yang seperti dikutip di atas. Dimana semua orang tua pasti menginginkan anaknya lebih sukses daripada dirinya. Mereka mendidik kita, rela mengorbankan apapun demi kita, anak mereka.

Pasti ada di satu masa, kita akan lepas dari orang tua. Dulu kita selalu bersama. Apa – apa mengandalkan orang tua. Susah sedikit, orang tua. Semua.

Kini kita sadar, ada di ambang umur antara dewasa. Umur kita sudah hampir atau bahkan telah melewati angka kepala dua. Hingga saat ini, apa yang telah kita beri untuk mereka?

Hal kecil yang selalu kita idamkan adalah kebersamaan dengan mereka. Kita selalu ingin membahagiakan mereka. Namun apa iya kelak bila kita jauh hal itu pasti tidak akan dilupa?

“Kamu ‘kan sibuk… Udah gak apa – apa. Mamah udah gak apa – apa kok….”

Kalau kita sakit, cobalah ingat, siapa yang paling sibuk menanyakan kabar kita? Siapa yang sibuk mengingatkan kita, terus – menerus, sampai – sampai kita sendiri kadang lelah, kadang penat mendengarkan hal yang kita anggap celotehannya. Kita anggap Ia cerewet, masih menganggap kita tidak bisa merawat diri kita sendiri. Kita kadang mengentengkan apa – apa yang Ia peringatkan. “Iya gampang,” “Iya – iya, aku dah gede kali,” dan seterusnya.

Sedangkan, kalau Ia sakit, apa yang kita bisa perbuat? Tidak banyak. Apa kita selalu mengingatkannya sesering Ia mengingatkan kita? Apa kita selalu menanyakan kabarnya sesering Ia menanyakan kabar kita? Apa kita benar – benar mengkhawatirkannya? Apa iya? Apakah Ia pernah merasakan kalau kita terlalu cerewet mengurusi mereka? Jawabannya adalah tidak, karena pada kenyataannya kita tidak seperti Ia yang lebih sabar terhadap kita.

“Yaudah ini buat kamu aja, Mamah entar gampang.”

Kemudian kita selalu merasa senang, bukan? Namun orang yang lebih senang sebenarnya adalah Ia. Apapun yang menjadi prioritasnya adalah kita, anaknya.

Saat ketika kita harus bersenang – senang, namun harus kita tinggalkan demi Ia, mengapa kita merasa sangat berat? Mengapa kita harus berpikir beribu – ribu kali untuk memutuskan? Walaupun akhirnya, jawabannya adalah kita memilih Ia. Namun apakah pernah Ia berpikir sedemikian rupa untuk kita? Pernahkah Ia sangat mempertimbangkan keputusan yang Ia buat untuk kita? Dengan mudahnya urusan Ia tinggalkan demi kita. Karena bagi Ia, kita adalah segalanya. Apakah Ia segalanya bagi kita?

“Iya, nanti beli, ya.”

Kadang janji itu adalah hal yang kita harapkan. Cepat atau lambat, Ia pasti memenuhinya. Sebisa mungkin Ia mengabulkan keinginan kita. Tak jarang Ia tak langsung memenuhinya. Namun sama sekali Ia tak pernah lupa akan janjinya. Suatu saat Ia memberikan apa yg kita inginkan, sampai – sampai kita sendiri malah lupa.

Tapi ketika Ia inginkan sesuatu pada kita, yang sebenarnya hal itu adalah untuk kita sendiri, untuk kebaikan kita sendiri, tak jarang atau malah sering kita membantahnya. Sering kita membela diri atas alasan kita bisa menjaga diri. Seribu alasan untuk menolak satu permintaan. Mengapa kita secepat itu melupakan hal yang telah banyak Ia berikan?

“Yaudah kalo kamu maunya kayak gitu, tapi inget ya ……..”

Sebenarnya berat yang Ia rasakan. Tapi kita justru merasa senang. Pada saat ini Ia berpikir beribu kali, atau bahkan lebih. Ia tahu betul apa yang Ia sarankan kepada kita. Dengan alasan masa Ia berbeda dengan masa kita, apa semudah itu kita mengacuhkan perhatiannya? Satu hal yang harus kita ketahui, Ia ada lebih dulu daripada kita. Ia lebih banyak makan asam garam melebihi kita. Hal yang kita anggap benar bisa saja salah. Namun apa yang bisa Ia lakukan selain melihat kita senang?

 

 

 

Ada masa dimana orang tua sangat terlihat keras pada kita. Mereka marah terhadap kita. Atau mungkin kita merasa mereka jarang merasa bangga terhadap kita. Namun tahukah bahwa mereka selalu menyelipkan nama kita di setiap doanya? Tahukah bahwa mereka selalu menceritakan kebaikan kita terhadap orang – orang di sekitarnya? Tahukah bahwa tiada hal yang Ia pikirkan selain kita?

Menurutnya, mereka lelah tak apa. Buatnya, kita sudah berada di saat seperti ini saja mereka sudah bangga. Mereka kadang diam apabila mereka kesusahan, semata – mata karena mereka melihat kita sibuk dengan dunia kita. Pikirnya, kita sudah dewasa, pasti ada hal yang lebih penting daripada membantunya sekedar mengerjakan pekerjaan rumah, misalnya. Pernahkah kita tahu apa yang ada dilubuk hatinya?

Ingatkah kapan terakhir kali kita memeluk mereka? Ingatkah kapan terakhir kali kita sekedar mengucapkan selamat pagi kepadanya? Ingatkah kapan terakhir kali kita mengungkapkan bahwa kita sayang kepada mereka?

Kita terlau sibuk akan euforia kedewasaan kita. Kita terlalu menatap ke arah kita sendiri. Kita kadang lupa, orang tua kita di sana apakah masih baik – baik saja?

Cintailah dan hargailah orang tua kita. Kita sering begitu sibuk untuk tumbuh dewasa. Namun kita lupa, mereka juga bertambah tua.

Karena tahukah kita, kita tak akan menjadi apa – apa tanpa mereka.

 

Image

 

3 thoughts on “Euforia Kedewasaan Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s