Mendung

Langit mendung.

Langit mendung.

Pagi itu tak secerah biasanya. Matahari nampak sedikit malu, sembunyikan sinarnya. Kalah oleh tebalnya awan sekitar. Mendung.

Kala itu terbangun. Sadar bahwa masih banyak kehidupan ke depan yang harus dilewati. Cerita kemarin sering terbesit di benak. Belum beranjak, pikir ini masih mengulas memori lalu. Mungkin hati ini sama dengan pagi tadi. Masih malu-malu untuk membuka apa yang harusnya ada di depan mata.

Raga ini bangun. Mata ini terbuka. Pikir ini bekerja. Hati hanya mengikuti. Bukankah begitu seharusnya kita manusia? Bisa jadi logika dan perasaan berjalan searah, tapi sejatinya hanya Tuhan dan diri ini yang tahu.

Siang datang namun mendung belum tergantikan. Apa perlu siang mengalah untuk tidak memancarkan panasnya dan terganti oleh rintik hujan? Namun nampaknya langit masih cukup kuat untuk membendung awan kelam.

Kini badan tak cuma diam. Sedikit banyak gerakan kiranya untuk mengisi kekosongan. Penuh pikiran memang, tapi memori tak akan bisa hilang. Tak perlu dipaksa untuk melupakan, karena sejatinya memori tercipta untuk dikenang.

Hal apa lagi yang membuat kurang? Manusia memang begitu, bukan? Bahagia belum cukup. Melihat apa-apa dengan mata, menginginkan apa-apa dengan nafsu, namun berpikir apa-apa seperti tak ada akal di dalamnya.

Sore tak begitu mengubah langit mendung. Hanya terlihat lebih gelap dari sebelumnya. Semoga langit masih kuat untuk membendung hujan. Entah itu petir menyerang, semoga ia masih dapat menyambut malam dengan tenang.

Hingga saat malam itu datang, semoga ia tercerahkan oleh bulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s