Being A Job Hunter – Part I

Kali ini saya akan sharing pengalaman saya saat menjadi seorang pejuang pencari kerja atau job seeker. Biasanya, setelah lulus kuliah, hal pertama yang akan dilakukan oleh sebagian besar fresh graduate adalah mencari kerja. Ada beberapa orang yang beruntung bisa mendapat pekerjaan sebelum mereka diwisuda. Namun ada pula beberapa orang yang mencari kerja setelah semua urusan perkuliahan termasuk urusan wisuda selesai. Saya termasuk beberapa orang yang mencari peruntungan mencari pekerjaan sebelum lulus atau diwisuda. Walaupun pada kenyataannya, peruntungan tersebut belum datang menghampiri hingga saya diwisuda.

Perjalanan saya mencari pekerjaan pertama saya terbilang sangaaaaat panjang dan penuh perjuangan. Kenapa? Karena memang saya melalui masa-masa tersebut dengan tidak instan. Lulus tanggal 28 November 2014, wisuda tanggal 27 Januari 2015. Sedangkan memulai untuk mencoba peruntungan mencari pekerjaan pada bulan April 2014. Asam garam kehidupan seorang jobseeker mungkin pernah saya rasakan dan tak akan pernah terlupakan.

Secara umum, proses rekrutmen pada perusahaan terdiri dari beberapa tahap dengan urutan yang berbeda-beda, tergantung dari perusahaan tersebut. Tahapan rekrutmen yang pernah saya ikuti adalah sebagai berikut:

1. Screening CV

Pada bagian ini, kelengkapan berkas kita akan diperiksa. Dimulai dari berkas-berkas persyaratan yang diminta seperti CV, surat lamaran, foto, ktp, ijazah, transkrip, hingga kualifikasi kita memenuhi atau tidak. Misalnya seperti jurusan, IPK, pengalaman organisasi, pengalaman kerja (untuk yang experience), tahun kelulusan, hingga akreditasi universitas.

2. Tes Psikologi atau Psychotest

Setelah kita lolos pada tahap screening CV, pada sebagian perusahaan terdapat tes tertulis yaitu psychotest. Sesuai namanya, tes ini merupakan tes untuk mengetahui kepribadian kita. Untuk tes psikologi, terdapat banyak sekali macamnya seperti ini.

3. Tes Kemampuan Teknis atau Skill Test

Tes kemampuan teknis atau Skill Test adalah tes untuk mengetahui sejauh mana kita menguasai teknis yang ada pada posisi yang sedang kita lamar. Misalnya apabila saya melamar di bidang IT, maka soal tes kemampuan ini berkisar seputar IT. Bila saya melamar di bagian perbankan, soal tes adalah seputar perbankan, dan lain-lain.

4. Focus Group Discussion (FGD) & Leaderless Group Discussion (LGD)

Untuk penjelasan mengenai FGD dan LGD dapat dilihat di sini. Pada FGD dan LGD biasanya terdiri dari beberapa orang dalam 1 kelompok. Biasanya perusahaan sudah mempunyai suatu topik untuk dibahas pada FGD atau LGD. Topiknya bermacam-macam. Bisa berhubungan dengan posisi  atau perusahaann yang sedang kita lamar, bisa juga tidak.

5. Interview Psikolog/HRD

Interview psikolog dan HRD pada dasarnya tidak jauh berbeda, biasanya menggali tentang personality kita pribadi. Pertanyaan yang diajukan biasanya seputar pengalaman organisasi/kerja, tentang kelebihan/kekurangan kita, atau bisa juga mengenai ketertarikan kita pada bidang atau perusahaan yang sedang kita lamar.

6. Interview Manager/User/Direksi

Pada interview ini biasanya membahas masalah yang lebih teknis dan mengerucut ke minat atau bidang kita. Interviewer akan menganalisa apakah kita cocok berada pada divisi yang sedang kita lamar. Misalnya apabila kita berada pada bidang IT, maka pertanyaan yang akan diajukan seputar bidang IT. Terkadang apabila mungkin kita kurang tepat berada pada divisi tertentu namun memenuhi kriteria pada divisi lain, bisa saja kita memiliki kesempatan untuk berada di divisi lain di perusahaan tersebut.

7. Medical Check Up

Untuk tes kesehatan, biasanya perusahaan telah menjalin kerjasama dengan klinik atau laboratorium tertentu dan kita diminta untuk melsayakan tes kesehatan di sana.

8. Sign Contract

Tahap terakhir yang kita tunggu-tunggu adalah tahapan untuk tanda tangan kontrak, artinya kita telah lolos seluruh tahap rekrutmen dari perusahaan.

Lika-liku pencarian pekerjaan saya mulai dengan mengikuti berbagai jobfair, career expo, atau bursa kerja. Di kota Semarang, sering kali diadakan event tersebut. Lokasi dan penyelenggaranya pun beragam. Mulai dari universitas, Event Organizer, hingga dinas ketenagakerjaan telah saya jajal semua. Tidak hanya di kota Semarang, saya pun sering mengunjungi Kota Yogyakarta untuk mengadu nasib menjadi jobseeker di sana. Dan dari sini petualangan saya dimulai.

April 2014

Bulan April 2014 merupakan pengalaman pertama saya mengikuti rekrutmen karyawan. Rekrutmen karyawan perusahaan pertama yang saya jajal adalah PT. Paragon Technology and Innovation (PT.PTI). PT. PTI atau yang lebih dikenal dengan produknya salah satunya adalah wardah cosmetic mengadakan recruitment test pada 17 April 2014 bertempat di Teknik Elektro UNDIP. Saya melamar untuk posisi Business Analyst. Karena masih pertama kali mengikuti proses rekrutmen, saya sangat antusias. Setelah lolos tahap screening CV, dilanjutkan dengan tes psikologi. Pertama PT.PTI mengadakan presentasi yang berkaitan dengan perusahaannya baru kemudian tes dimulai. Berbagai macam tipe psikotes ada pada tahap ini. Salah satunya adalah tes pauli kraepelin  yang cukup meguras tenaga dan otak. Namun sangat disayangkan pengalaman seleksi pertama saya ini tidak berlanjut pada tahap selanjutnya alias saya tidak lolos pada tahap psikotes ini. Agak sedih memang, tapi tidak masalah, hitung-hitung untuk pengalaman. Lagipula saya juga belum menyelesaikan skripsi saya pada waktu itu jadi menurut saya tidak perlu ada penyesalan yang berlarut-larut.

Agustus 2014

Pada bulan Mei hingga Juli 2014 saya memutuskan untuk fokus pada Tugas Akhir saya dan pada akhirnya saya kembali untuk menjajal peruntungan saya kembali pada bulan ini. Rekrutmen selanjutnya yang pernah saya lewati adalah rekrutmen PT. Bina Pertiwi (PT. BP).  Seleksi psikotest diadakan pada tanggal 28 Agustus 2014 bertempat di Teknik Mesin UNDIP. FYI, PT. Bina Pertiwi adalah salah satu anak perusahaan dari PT. United Tractors (Tbk), salah satu grup perusahaan Astra International. Posisi yang saya lamar pada waktu itu kalau tidak salah adalah Business Consultant. Namun, lagi-lagi langkah saya terhenti hanya pada tahap psikotest saja. Hmm, mungkin ini pertanda bahwa saya harus benar-benar menyelesaikan kewajiban utama saya dulu yaitu Tugas Akhir.

November 2014

Bulan Oktober berlalu, Tugas Akhir saya sudah rampung. Bulan November adalah bulan saya untuk melakukan sidang Tugas Akhir. Namun Dikarenakan pada bulan Oktober akhir saya mengunjungi job fair yang diadakan oleh UNDIP yang dibantu oleh suatu Event Organizer, alhasil saya pun menjajal untuk melamar ke salah satu perusahaan yaitu PT. Astra Graphia Information Technology (PT. AGIT) posisi Management Trainee – IT. PT. AGIT merupakan salah satu anak perusahaan Astra International. Seusai namanya, PT. AGIT bergerak dibidang Information Technology.
Seleksi diadakan pada tanggal 11 November 2014 di FE Undip Peleburan. Untuk tahap psikotes dilaksanakan menjadi 2 tahap, apabila pada tahap psikotes pertama kita lolos maka dilanjutkan ke psikotes tahap kedua. Alhamdulillah saya lolos hingga tahap kedua psikotes, lalu dilanjutkan tahap interview oleh psikolog pada hari selanjutnya yaitu tanggal 12 November 2014 di tempat yang sama. Pada tahap interview psikolog, psikolog menanyakan tentang kegiatan keseharian saya berkuliah, pengalaman organisasi, dan juga kepribadian kita. Pada saat itu saya belum lulus kuliah, psikolog menanyakan juga tentang tugas akhir yang sedang saya kerjakan. Setelah sesi interview selesai, saya diminta untuk menunggu selambat-lambatnya 2 minggu. Apabila tidak ada kabar hingga 2 minggu, berarti saya tidak lolos tahap interview psikolog.
Setelah kurang lebih 1 minggu saya dihubungi pihak HRD PT. AGIT melalui telepon. Saya telah lolos sesi interview psikolog dan diminta untuk mengikuti interview user di Jakarta. Namun karena hari itu mendekati hari sidang tugas akhir, akhirnya saya tidak bisa menyanggupinya. Tepat H+3 setelah saya lulus dari sidang tugas akhir, pihak HRD PT. AGIT menghubungi saya kembali untuk mengikuti interview user di Jakarta. Namun setelah saya melakukan diskusi dengan orang tua serta terdapat beberapa pertimbangan beberapa urusan perkuliahan hingga kelulusan yang belum selesai , akhirnya saya mengikuti hati nurani saya untuk tidak memenuhi panggilan rekrutmen ini. HRD PT. AGIT pun memakluminya daaan akhirnya saya tidak melanjutkan proses rekrutmen hingga tahap interview user.

Desember 2014

Setelah saya dinyatakan lulus bersyarat karena telah lulus sidang Tugas Akhir namun belum diwisuda, dengan bermodalkan Surat Keterangan Lulus (SKL) saya terus melanjutkan perjuangan saya sebagai jobseeker. Panggilan kerja selanjutnya adalah dari perusahaan BBI Group (Apparel One Indonesia) posisi Management Trainee. Apparel One Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang perusahaan atau pabrik tekstil bertempat di kawasan industri Semarang. Ada juga panggilan dari Bank Mega Syariah posisi Officer Development Program yang berlokasi tes di Yogyakarta. Namun sayangnya, panggilan dari kedua perusahaan tersebut bertepatan dengan posisi saya yang sedang berada di Jakarta karena ada urusan keluarga. Jadi dengan berat hati saya tidak dapat mengikuti tes tersebut.

Rekrutmen selanjutnya yang saya ikuti adalah PT. Pertamina Lubricants (Pertalub), posisi System Analyst. PT. Pertamina Lubricants adalah anak perusahaan dari PT. Pertamina (Persero). Ada pengalaman yang cukup seru dari rekrutmen Pertalub ini. Saya mengetahui informasi mengenai lowongan kerja Pertalub ini melalui cdcindonesia.com. Informasi di-posting pada tanggal 22 Desember 2014. Pengiriman berkas lamaran melalui pos paling lambat tanggal 31 Desember cap pos. Persyaratan berkas lamaran dapat dilihat di sini. Salah satunya adalah surat keterangan bebas narkoba dan fotokopi akte kelahiran yang telah dilegalisir.
Pada waktu itu saya belum mempunyai surat keterangan bebas narkoba (SKBN). Karena tempat pembuatannya berdekatan dengan pembuatan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) maka saya putuskan untuk membuatnya pada waktu bersamaan. Namun ternyata untuk mengurus SKCK harus melalui beberapa tahap seperti ini. Agak ribet memang, tapi tetap saya harus mengurusnya agar mendapatkan surat tersebut. Dari pagi pukul 08.00 saya sudah menuju ke Kelurahan, Kecamatan, Polsek, dan Polrestabes setempat untuk mengurus SKCK dan SKBN. Hingga pada siang hari selepas Dzuhur, barulah SKCK dan SKBN jadi. Setelah itu saya berencana untuk menuju dispendukcapil. Untuk melegalisir akte kelahiran harus melalui dispendukcapil setempat sedangkan lokasinya lumayan jauh dari tempat pembuatan SKCK (polrestabes). Sempat ingin mengurungkan niat untuk melamar pada perusahaan ini, karena pada saat itu adalah tanggal 29 Desember 2014, sangat mepet dengan deadline pengumpulan berkas yaitu tanggal 31 Desember 2014. Namun karena penasaran dan merasa tanggung, akhirnya saya bertekad untuk melanjutkan perjalanan ke dispendukcapil. Padahal hari itu hujan sangat deras dan saya tidak membawa jas hujan. Saya memutuskan untuk mampir ke salah satu minimarket untuk membeli jas hujan plastik ala-ala yang tipis, setidaknya saya terlindung dari basahnya air hujan.
Setelah bermodalkan gmaps dan tanya-tanya orang sekitar, akhirnya sampailah saya di dispendukcapil setempat. Waktu saya ambil nomor antrian, saya melihat loket sudah agak sepi dan tidak ada antrian. Saya nekat langsung duduk di depan loket dan mengatakan pada bapak yang berada pada loket, kurang lebih seperti ini percakapannya,

“Pak, saya mau legalisir akte kelahiran, gimana ya?”
“Wah, udah tutup, Mbak. Udah jam 2,” (sambil beres-beres meja loket).
(melihat jam di handphone, jam menunjukkan pukul 13.59 WIB) “Wah, Pak sebentar aja kok, Pak. Ini saya dari jauh, Pak. Cuma legalisir ini aja kok, Pak,” (wajah memelas, sudah lepek, kusut, basah, sambil mengeluarkan berkas fotokopian akte kelahiran).
“Yo bukan gitu, kan nanti kalo yang nanda tangannya udah ngga ada ki lho, Mbak. Yaudah, sebentar,” (sambil ngomong ke pegawai lainnya, lalu pegawai lainnya itu menanggapi: “Iki terakhir lho, Pak!”. Menunggu sebentar) “Yaudah, Mbak. Mana fotokopian akte sama fotokopian KK-nya. Ini jam 2 harusnya udah tutup lho, Mbak. Ini diisi,” (sambil mengeluarkan semacam form untuk diisi).
“Hee hee.. Iya, Pak. Saya nggak tahu, Pak. Ini, Pak..,” (sambil mengeluarkan fotokopi KK, dan ternyata saya tidak membawa ballpoint!). “Maaf, Pak, ada ballpoint, nggak? Heehe,” (mengisi form). “Ini, Pak, sudah,”
“Ya, tunggu sebentar, Mbak,” (sambil masuk ke dalam ruangan. Dan taraaa, beliau kembali dengan fotokopian akte ku yang telah di legalisir).
“Wah makasih banyak yaaaa, Pak.. Permisi, Pak,” (muka sumringah, terharu, senang).

Setelah SKCK, SKBN, dan legalisir akte beres, saya langsung tancap gas untuk pulang ke rumah dengan keadaan baju yang lumayan basah. Setelah sampai rumah, waktu menunjukkan sekitar pukul 15.00, niatnya ingin beristirahat dari kelelahan hari itu, namun handphone saya berdering. Seorang teman menelpon saya, memberitahu bahwa berkas surat pengantar SKL saya sudah diparaf oleh Bapak Dosen dan SKL siap untuk dimintakan paraf ke Bapak Kajur. Dia menyuruh saya untuk ke kampus waktu itu juga mumpung Bapak Kajur ada di kampus, katanya. Karena minta paraf di SKL tidak bisa diwakilkan, maka saya memutuskan untuk tancap gas lagi ke kampus. Ini semua demi deadline 31 Agustus dari Pertalub. Setelah sampai kampus dan mendapat paraf Bapak Kajur, SKL kemudian dikumpulkan di Dekanat dan ternyata SKL harus ditinggalkan diloker dan baru bisa diambil besok hari karena waktu itu sudah pukul 16.00, which is Bapak PD I pasti sudah tidak bisa dimintai lagi tanda tangan karena sudah terlalu sore. Well, saya harus menunggu lagi sampai besok.
Esoknya, tanggal 30 Desember, pagi-pagi saya sudah berada di Dekanat dan ternyata berkas saya di loker belum ditandatangani. Alhasil saya gundah gulana karena berkas yang belum terpenuhi tinggal SKL ini, maka seharusnya berkas saya bisa siap kirim lewat Kantor Pos. Saya juga khawatir bila besok tanggal 31 Desember kantor pos hanya buka setengah hari mengingat adanya pergantian tahun baru. Setelah menunggu beberapa jam, saya kembali ke Dekanat dan mengecek berkas saya daaan alhamdulillah SKL saya sudah di tandatangani Bapak PD I. Setelah itu saya bergegas untuk memfotokopinya dan pergi ke kantor pos untuk mengirim berkas saya. Kebetulan waktu itu pukul 11.30, karena saya pernah dengar bahwa pengiriman paket kilat hanya bisa sebelum pukul 12.00, maka saya merasa beruntung karena saya bisa mengirimkan berkas saya dengan pengiriman paket kilat dan akan sampai esok harinya, tanggal 31 Desember. Lega rasanya. Sekarang tinggal banyak berdoa semoga berkas saya lolos seleksi dan diundang untuk mengikuti seleksi tahap selanjutnya.

Februari 2015

Bulan Januari 2015 adalah bulan dimana saya diwisuda. Pada bulan tersebut saya gethol untuk mencari pekerjaan melalui internet. Namun, pada bulan Februari 2015 lah panggilan pekerjaan dimulai. Setelah penantian yang cukup lama, yaitu 1 bulan, pada awal Februari tepatnya tanggal 4 Februari, saya mendapat SMS bahwa saya lolos seleksi berkas PT. Pertamina Lubricants. Senang sekali rasanya. Perjuangan yang saya lakukan dulu ternyata tidak sia-sia. Tes akan dilakukan pada tanggal 7 Februari di Wisma MM UGM Yogyakarta. Itu artinya saya mendapat panggilan melalui SMS tepat pada H-3 waktu tes. SMS tersebut menyatakan saya harus mengkonfirmasi kehadiran melalui SMS dan diminta untuk mengecek e-mail agar dapat mencetak kartu tes. Setelah saya membalas konfirmasi SMS, saya mengecek e-mail saya. Namun ternyata tidak ada e-mail yang masuk. Saya tunggu hingga beberapa menit, beberapa jam, hingga beberapa hari mendekati hari H. Dan selama saya menunggu e-mail masuk, saya searching mengenai perusahaan Pertalub ini. Hingga pada akhirnya saya menemukan perbincangan dalam sebuah forum di internet tentang rekrutmen pertalub tahun 2015 ini. Ternyata bukan saya saja yang belum mendapat e-mail kartu tes, banyak orang lain juga yang belum mendapatkan e-mail.
Dan tanggal tes semakin dekat namun saya belum juga mendapat e-mail dari Pertalub. H-2 waktu tes saya gusar dan memutuskan untuk mengirimkan SMS ke nomor yang Pertalub yang SMS saya kemarin. Namun tidak ada jawaban. Saya sempat putus asa karena tidak mendapat kartu tes. Saya juga mencoba untuk menghubungi nomor tersebut namun tetap tak ada jawaban. Hingga akhirnya H-1 waktu tes tiba. Pagi-pagi saya mengecek e-mail dan masih nihil. Akhirnya setelah penantian yang cukup membuat resah, siangnya surat cinta yang ditunggu-tunggu datang. E-mail kartu tes tersebut baru saya dapatkan.

—-> Go to Being A Job Hunter – Part II

3 thoughts on “Being A Job Hunter – Part I

  1. Pingback: Being A Job Hunter – Part II | Jejak Sekolahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s